Langsung ke konten utama

TIDUR DI LANTAI KAPAL BERSAMA NAJWA SHIHAB

Selepas acara yang entah itu adalah acara apa, kami semua lelah. Acara digelar outdoor, dan kalau tidak salah ada sedikit gerimis menghujam jantung bumi, jantungku juga.

Acara selesai. Semua orang segera masuk ke kapal. Kapal itu sangat besar, banyak ruangan, dan banyak kamar yang nyaman. VIP pun ada. Namun entah mengapa, semalam tiba-tiba saja kapal itu menjadi penuh sesak dan hanya menyisakan satu ruangan. Ruangannya bagus, lantainya keren, namun tak ada tempat duduk maupun kasur. Yang ada hanya tempat menaruh tas dan barang-barang yang lain.

Aku dan Kak Najwa Shihab ada di ruangan itu. Hanya berdua. Kami tak suka banyak orang. Akhirnya kami duduk di lantai kapal itu, tanpa alas. Kami terlihat hampir bercakap-cakap, tapi sepertinya Kak Najwa sangat capai dan mengantuk. Dia sudah payah sekali.

Dia langsung merebahkan tubuhnya lalu meringkuk. Aku melihatnya. Tidak tega. Aku tak akan teg amelihat siapapun tidur dengan cara seperti itu, dan di tempat seperti itu. Aku lekas berdiri, merogoh tas, entah tas siapa, kucari selimut atau apapun itu yang bisa dijadikan alas agar tubuh tak langsung bersentuhan dengan lantai kapal.

Aku dapat!
sumber.com
"Najwa, bangun! Kau harus pakai alas..." kataku padanya.
"Tak perlu, Kamila. Tidak apa-apa." jawabnya sambil terus meringkuk, matanya terpejam, namun masih dapat bicara, meski susah. Dia terlihat lelah sekali.
"Najwa..." aku sedikit mendorong tubuhnya bergeser, lalu kugelar sembarang, kukembalikan lagi tubuhnya, berhasil! Dia tetap tak membuka matanya.

Jadi, semalam aku dan Kak Najwa tidur di lantai kapal. Dalam mimpi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Kita Tidak Mati Semudah Itu?

Pasti kita semua pernah mempelajari tentang macam-macam makhluk hidup. Dalam pelajaran IPA, kita akan mengenal 4 makhluk hidup. Yaitu manusia, hewan, tumbuhan, dan yang terakhir setahu saya adalah pengurai. Saya tidak akan membahas pengurai di sini. Saya hanya akan membahas 3 makhluk hidup─manusia, hewan, tumbuhan. Ada apa dengan mereka? Dalam agama Islam, banyak makhluk yang diciptakan oleh Allah. Tidak hanya 3 tersebut di atas. Dari semuanya, ada yang gaib dan tidak. Kita juga pasti sudah mempelajari tentang yang gaib─malaikat, jin, iblis. Gaib artinya tidak berwujud. Mata manusia terbatas, dan tak mampu melihat yang gaib─ada yang mampu, namun ada proses untuk menjadi seperti itu. Sebagai manusia yang biasa-biasa saja (baca:manusia biasa), kita hanya akan mampu melihat sesama─manusia, hewan, dan juga tumbuhan. Kita pun hanya sebatas bisa melihatnya─hewan dan tumbuhan, dan tak pandai berbicara dengan bahasa yang mereka gunakan. Loh, tapi pawang di kebun binatang, sirkus, mere...

(Bukan) Review - Tentang Kamunya Tere Liye is RECOMMENDED!

Sejauh ini aku belum pernah membaca karya Tere Liye, Tentang Kamu inilah yang pertama kali, dan yang terbaru ya (mungkin). Lagi-lagi ini bukan bukuku. Seorang guru bahasa Indonesiaku saat MTs, menawariku novel ini. Awalnya aku sempat menolak karena beliau sendiri belum membacanya-aku ingin menunggu beliau selesai terlebih dulu. Tapi, beliau bilang “tidak apa-apa, saya punya 2, dan kita bisa gantian” (kurang lebih seperti itu). Baiklah, aku menerima tawaran itu. Kuambil novel di kediaman beliau. Dan kau tau?! Novel itu belum dibuka, masih disegel, dan masih belum dikeluarkan dari kantong kresek. Aku merasa tidak enak-sebenarnya, tapi aku sudah terlanjur datang. Saat buku itu sudah ditanganku, aku tidak langsung membukanya. Aku menyelesaikan Dilan dulu-aku tidak ingin nanti terlanjur terlena dengan Tentang Kamu lantas melupakan novel yang belum kelar. *aku juga sudah menyelesaikan artikel tentang Dilan beberapa waktu lalu setelah aku menyelesaikan membacanya selama berabad-abad. D...

I Lose MCF (My Close Friend)

It talks about me and one of my friends. I don’t mean to spread widely to the public, but I just want to tell a story. I love to tell stories. May be you can learn from this case. I hope. We both were ordinary friends in the first 3 years (junior high school) we recognized each other. Then, it changed to be closer when we were in the first class of senior high school. Yeah, we were close. I would not say that she was my crony, soul mate, or whatever it was (because I was not interested having crony -best friend- or certain kind). She was just my friend and she was the closest one with me. I told her everything. I shared her all my happiness even my sadness, I guess . I often brought her what I had, such as foods, goods, yeah. When my brother in law endowed me some foods from other city, I shared mine to her. When my mom was given some fruits by her friend, I also shared mine to her. Ya…just like that. Wherever I was, she was also there (school area only). I went to shop, she...